Ini cerpen yang pernah saya kirim ke kompas:)

GELAP TERANGNYA PERBEDAAN

Nadilla Saraswati

PERBEDAAN yang diciptakanNya apakah bisa membuktikan kata-kata Bhineka Tunggal Ika? Tidak. Perbedaan yang satu ini adalah perbedaan yang mustahil. Banyak orang bilang, Gelap tidak mungkin bersatu dengan terang. Entah siapa yang gelap dan siapa yang terang.

Pagi itu sinar matahari terang dan kicauan burung lah yang membangunkanku dari tidurku. Bukan lagi sosok dirimu yang entah dimana keberadaannya. Ku buatkan secangkir teh untuk diriku sendiri. Kehangatan di dalamnya membuat kesejukan rohaniku. Hal itu mengingatkan ku kepadamu. Sosok yang selalu hadir di setiap pagi ku, yang membawa kehangatan pada rohani dan jasmaniku. Ku buka lagi kotak tua yang berisikan kenangan kita. Kenangan? Apa benar ini hanya dapat menjadi sebuah kenangan? Tidak kah semua ini dapat terulang? Mustahil. Iya, mungkin sendu. Mungkin itu yang kurasakan pagi ini. Dalam kotak tua itu terdapat selembar kertas usang  yang tak pernah bosan kubacakan.

“Jangan pernah khawatir dengan keadaan. Kita berbeda. Ya benar. Tetapi sampai kapanpun hatiku masih sama. Hatiku tidak beda. Disana masih tertuliskan se sosok peremuan yang bahkan sejajar dengan Tuhan. Sosok perempuan yang akan selalu menjadi permaisuriku. Sosok perempuan yang selalu menjadi impian.  Dia adalah dirimu. Hanya dirimu. Dan selalu dirimu.”

Surat dari lelaki yang pernah menjadi udara dalam ruang-ruang hatiku itu berhasil membuat air mataku jatuh lagi. Entah apa yang berada di dalamnya.  Entah apa yang ku pikirkan.

Pada pagi yang gelisah, ku jejakkan kakiku menuju tempat baru yang akan kujadikan tempat menimba ilmu. Banyak sekali para bujang gadis di tempat itu. Mungkin tujuan mereka sama seperti ku. Atau mungkin ada maksud lain mereka datang ke Universitas ini. Aku sudah berada di kelas yang masih sepi itu, tidak ada murid ataupun dosen disana. Mungkin aku datang terlalu pagi. Tiba-tiba kudengar suara hentakan kaki menuju ke kelas itu. Aku tidak mempedulikannya. Tetapi sang pemilik hentakan kaki itu menghampiriku. “Apakah kau murid di kelas ini juga?” suara itu melintas di telingaku. Lembut, jelas, dan bahkan tak asing lagi bagiku. Aku mengarahkan pandanganku ke arahnya. Ku lihat sosok pemuda tampan, yang sempat membuatku terkejut.

“Ronny?”

“Anda mengenal saya?”

Lalu aku menunjukkan sebuah kertas yang berisi tentang identitas lengkapku. Sebuah tawa yang sengau dari suaranya yang parau membuatku sesaat tersedak. Satu getir yang pasti ada di antara gelaknya.

“Hahaha..Tidak mungkin kamu laras ku.”

Bendungan air mata yang menghiasi mataku pun jatuh melintasi kedua pipiku. Pemuda itu bingung dan segera menghapus airmataku . Kedua tangannya yang lembut itu mendarat di kedua pipiku. Kelembutannya masih seperti dulu. “Mengapa kamu menangis? Apa benar kamu Larasku?”

“Kalau kamu tidak percaya, ikutlah denganku”

Aku pun berlari menuju rumahku yang jaraknya pun tak jauh dari Universitas itu. Dibelakangku pemuda itu benar-benar mengikutiku. Kemudian aku segera mengambil kotak tua yang ku simpan di dalam lemari bajuku. Ku buka kotak itu dan ku ambil kertas usang yang berisikan sebuah surat dari seorang pemuda yang pernah mengisi masa laluku. Ku berikan kertas itu kepada pemuda yang mengikutiku. Setelah ia membacanya, air matanya pun ikut jatuh . Lalu dia memelukku. Hangat peluknya itu masih sama seperti dulu. Penuh cinta, kasih, dan kesejukkan. Aku sangat merindukan hal ini. Jika aku bisa menghentikan dunia. Aku ingin dunia berhenti saat aku berada dipeluknya. Lalu pemuda itu melepaskan pelukannya dan tersenyum bahagia. Senyum lelaki itu segera membuyarkan semut-semut ketakutanku. Mata itu tetap seperti dulu. Mata yang gelisah. Mata yang aku ingin kecup dan kubiarkan terpejam bersama damai yang dihembuskan sebuah pagi.

Kumandang shubuh dan suara ketukan pintu lah yang kali ini membangunkanku. Dalam hati aku bertanya, siapakah yang sudah datang ke gubuk ku saat pagi belum sampai ini? Aku segera membuka kan pintu rumah ku dan disana aku terkejut melihat seseorang yang datang pada pagi itu.
“Selamat pagi sayang. Seperti biasa, aku membawakan sarapan dan ingin membangunkanmu agar kamu tidak lupa untuk sholat .”

Sama seperti dulu. Terharu dan bahagia saat pemuda itu datang  dan membawa masa lalu itu.

“Terimakasih Ron. Kamu ingin masuk dulu?”

“Tidak terimakasih. Aku mau langsung ke gereja. Kamu jangan lupa sholat dan makan sarapan yang ku bawakan ya. Aku berangkat ke gereja dulu. Sampai jumpa sayang”

Sangat Miris. Pemuda yang selalu ku tunggu kehadirannya setiap pagi itu. Yang selalu mengingatkan ku untuk mendekatkan diri kepada Tuhan-ku,  tetapi malah dia yang tidak mengenal Tuhan. Maksudku, tidak mengenal Tuhan-ku. Mungkin ini lucu, tetapi ini faktanya. Bertahun tahun sudah aku menjalin hubungan dengannya , tetapi sampai saat ini aku tidak mengenal Tuhan-nya dan dia tidak mengenal Tuhan-ku. Kami berbeda. Mungkin memang banyak perbedaan yang ada, seperti jenis kelamin dan bahkan kota yang sempat memisahkan kami berdua, tetapi perbedaan itu justru membuat kami bertemu kembali. Sayangnya ada satu perbedaan yang tidak bisa membuktikan kalimat semboyan negara kita. Berbeda-beda tapi tetap satu.  Benarkah makna dari kalimat itu dapat menyatukan perbedaan antara aku dengannya? Tidak. Semua tidak sesuai dengan harapan dan impian. Kenyataannya sudah jelas,  gelap dan terang tak akan bisa menjadi satu.

“Tidak terasa ya ron, sudah hampir tiga bulan kita bersama lagi” saat itu aku memulai percakapan antara aku dengannya yang sedang menikmati keindahaan alam yang diciptakan Tuhan.

“Iya, tak disangka pula kita bisa kembali bertemu dan bersama kembali setelah hari itu memisahkan kita dan hampir tak membawamu kembali”

“Lucu ya, kalau mengenang masa dimana kita masih memakai seragam sekolah, berkunjung ke tempat yang belum pernah kita kunjungi, dan setelah kita bertengkar kita menggunakan kelingking kanan kita untuk disatukan sebagai simbol bahwa kita sudah baikan.”

Ronny membuat tawa kecil yang tak ada bedanya seperti dulu masih berseragam sekolah. “Kita akan selamanya bersama-sama kan Ras? Kita tak mungkin terpisah lagi kan Ras?”

“Itu tidak mungkin Ron. Kita berbeda. Gelap dan terang tak akan mungkin bisa bersama. Mungkin itu semua hanya khayalan semata. Layaknya mengejar langit. Setinggi apapun kita mencarinya dan mengejarnya, tak akan bisa mengalahkan tinggi langit itu.”

“Ras.. Kita pasti bisa. Di dunia ini tidak ada kata mustahil dan tidak ada yang tidak mungkin bagi kehendakNya”

“KehendakNya? Kehendak Tuhan? Tuhan yang mana? Tuhan-ku atau Tuhan-mu?” Mataku mulai mendung mengatakan hal itu. Kemudian, Ronny meraih kedua telapak tanganku.

“Kamu pernah merasa berada di ruang gelap pekat? Tak usah takut. Kita akan bergenggaman untuk sama-sama mencari cahayaNya. Kamu tak perlu takut. Ada aku disini. Selalu disini. Disampingmu”

Mataku bertemu dengan matanya. Mata kita sama-sama mendung. Kita hanya dua insan yang saling mencintai. Tapi kenapa kami dijadikan untuk menjadi insan yang berbeda? Jika Tuhan menjadikan aku berbeda dengannya, apakah Tuhan juga menjadikannya bukan milikku?

Bertahun-tahun sudah aku dengannya bersama-sama. Melewati banyak kisah yang tak mungkin orang lain bisa lewati. Karena tidak mudah bagi dua insan yang berbeda dapat melewatkan hari-hari yang lama untuk bersama. Malam ini, di tempat dimana aku dengannya selalu datang tanpa perencanaan. Bisa dibilang malam ini meruapakan hal yang tidak ku suka. Di malam ini, aku akan memutuskan untuk menempuh kehidupan masing-masing. Walaupun sebenarnya ini bukan kemauanku. Tapi memang ini sudah kehendakNya.

“Ron, aku sudah tidak bisa terus-terusan menjalin hubungan ini denganmu”

“Maksud kamu? Kamu inginkan perpisahan?”

Aku hanya mengangguk ragu sambil menunduk karena tak sanggup menatap matanya yang penuh impian itu.

“Tapi kenapa? Perbedaan kita?”

“Iya Ron”

“Aku kan sudah pernah bilang, Laras. Kita..” belum  selesai Ronny berbicara, aku pun membatantahnya.

“Ronny cukup! Aku tidak bisa!” bendungan airmata itupun turun membasahi kedua pipiku

Ronny melemah, tak berdaya, dan hanya bisa menangis mendengar suara ku yang membentaknya.

Aku memegang dagunya dan menatap matanya, “Terimakasih untuk semuanya Ron. Maaf untuk semua kesalahanku. Kita masih bisa berteman. Status kita hanya teman. Tapi ingat ya, hati ini masih sama, selalu mencintaimu. Jangan lupakan semua kenangan kita ya Ron. Aku..sayang kamu.” Aku pun berlari tak kuasa menahan rasa tangis dan sesak yang begitu mendalam. Saat itu, aku tak tahu bagaimana keadaannya. Mungkin ia kini tersudut sepi dihimpit duka.

Tuhan, aku titipkan rasa ini kepadamu. Aku hanya ingin menjalankan perintahmu. Jika begini takdirku, maka aku akan menerimanya. Aku hanya memohon kepadamu. Tolong jaga dia, Tuhan. Jaga hatinya. Berilah Ia hati yang lapang. Lindungi ia, Tuhan. Aku menyayanginya.